Arsip Tag: sorgum manis

SORGUM MANIS (Sorghum bicolor (L.) Moench)

Klasifikasi ilmiah tanaman sorgum adalah sebagai berikut:

Kerajaan          : Plantae

Subkerajaan     : Tracheobionta

Superdivisi      : Spermatophyta
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida

Subklas            : Commelinidae
Ordo                : Cyperales

Famili              : Poaceae
Genus              : Sorghum  Moench.

Species            : Sorghum bicolor

(USDA = United States Departement of Agriculture, 2008; Skinner, 2006).

Tanaman sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bentuk tanaman ini secara umum hampir mirip dengan jagung (Gambar 2.3a) tetapi tipe bunganya berbeda. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle (susunan bunga di tangkai). Rangkaian bunga sorgum berada di bagian ujung tanaman (Gambar 2.3b). Bunga sorgum termasuk bunga sempurna yang kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga sedangkan bunga jagung termasuk bunga tidak sempurna. Tanaman sorgum memiliki batang tunggal yang terdiri atas ruas-ruas, daunnya terdiri atas lamina(blade leaf) dan auricle, rangkaian bunga sorgum yang nantinya akan menjadi bulir-bulir sorgum.

            Daun sorgum memiliki lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu bertahan pada daerah dengan kelembaban sangat rendah (USDA, 2008).

Sorgum manis termasuk tanaman C4 yang memiliki efisiensi fotosintesis dan produktivitas yang tinggi. Bijinya dihasilkan melalui penyerbukan sendiri di dalam bulir yang terdapat di atas puncak tanaman dan mengandung sel kelamin jantan dan sel kelamin betina (Nahar, 2011).

Sorgum manis dapat tumbuh pada tanah liat hingga tanah gembur. Tanah lempung dan berpasir biasanya menghasilkan sorgum manis yang paling baik untuk produksi nira. Permukaan tanah dengan drainase yang baik lebih disukai, meskipun tanaman ini juga tahan pada kondisi tanah basah dengan pH tidak kurang dari 6 (Nahar, 2011).

Sorgum manis lebih tahan terhadap kekeringan dan kondisi yang panas dibandingkan dengan banyak tanaman lainnya. Karakteristik morpho-physiological tertentu yang dimiliki sorgum manis memberikan sifat toleransi yang tinggi terhadap kekeringan dan sistem fotosintesis C4 yang memungkinkan fiksasi CO2 paling efisien (Heichel, 1976). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun hasil biomassa yang diperoleh dengan adanya irigasi lebih tinggi, hasil yang dicapai tanpa irigasi juga cukup memuaskan, sehingga menjadikan sorgum manis sangat kompetitif di antara tanaman lahan kering yang lain (Habyarimana dkk., 2004)

Penanaman sorgum manis dimulai dengan menyemai biji pada cekungan atau lubang dengan jarak 60 cm antar baris dan 15 cm antar lubang di dalam baris. Sorgum manis tidak cocok dengan kerapatan tinggi, oleh karena itu disarankan agar kerapatan tanaman hanya sekitar 7000 tanaman/ha. Tanaman sorgum manis sebaiknya ditanam pada waktu tanah dapat mengikat banyak air. Tanaman ini tidak menyukai curah hujan yang tinggi karena kelembaban tanah yang tinggi atau hujan deras yang terus menerus setelah tanaman berbunga dapat mengurangi kandungan gula tanaman tersebut. Tanaman sorgum manis dapat dipanen pada umur 115-125 hari setelah ditanam. Untuk mendapatkan nira yang banyak dengan kualitas tinggi, tanaman sebaiknya dipanen pada saat bijinya sudah matang (Nahar, 2011).

Batang tanaman sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi. Gula tersebut terutama terdiri atas sukrosa, fruktosa, dan glukosa, sama seperti tebu. Namun demikian, tidak tepat jika total gula di dalam nira sorgum manis dianggap sama dengan jumlah dari sukrosa, glukosa, dan fruktosa saja. Pengujian dengan teknik spektrofotometri menunjukkan bahwa jenis-jenis gula yang ada di dalam nira sorgum manis adalah xylosa, ribosa, arabinosa, fruktosa, sorbosa, galaktosa, manosa, sukrosa glukosa, poliglukosa, dan glukosa. Dengan demikian maka total kandungan gula di dalam nira sorgum manis dapat jauh lebih banyak daripada sekedar sukrosa, glukosa, dan fruktosa (FAO, 1994a).

Sorgum manis ditanam terutama untuk pakan ternak dan untuk menghasilkan gula. Nira yang diperoleh dari ekstrak batang selain cocok untuk produksi etanol, juga baik untuk membuat sirup. Ampas batang setelah diekstrak dapat digunakan sebagai bahan bakar, makanan ternak dan pupuk organik (Reddy dkk, 2006). Bahkan ampas batang tersebut juga dapat dikonversi menjadi etanol (cellulosic ethanol) (Mamma dkk., 1995). Analisis energi pada produksi etanol dari sorgum manis menunjukkan bahwa jika nira sorgum manis diuapkan menjadi sirup lalu digunakan untuk produksi etanol sepanjang tahun dan hasil sampingya digunakan untuk makanan ternak, rasio energy output/energy input mencapai 3,5. Jika nira sorgum manis yang diperoleh langsung difermentasi menjadi etanol setelah panen dan hasil samping bersama dengan material selulosic digunakan sebagai bahan baku untuk produksi etanol pada sisa waktu pada tahun tersebut, rasio energy output/energy input dapat mencapai 7,9. Nilai-nilai tersebut diperoleh dengan hanya memperhitungkan bahan bakar cair (Worley dkk., 1992)

            Selain gula, nira sorgum manis juga mengandung asam-asam organik dan mineral. Pengetahuan mengenai kadar senyawa-senyawa ini memungkinkan kita untuk memanfaatkan sorgum manis untuk tujuan-tujuan lain. Kadar gula nira sorgum manis rendah sebelum masa heading. Setelah itu, dengan pembentukan biji, derajat brix meningkat terus hingga mencapai maksimum pada masa panen. Derajat brix dalam batang naik selama sorgum tumbuh dan peningkatan brix terlihat nyata antara sepuluh hari pertama dan sepuluh hari ketiga masa heading. Derajat brix maksimum sangat tergantung pada masa panen. Jadi, sorgum manis sebaiknya dipanen pada masa kematangan biji karena dengan demikian, baik kandungan gula yang tinggi maupun hasil biji sorgum yang banyak dapat diperoleh. Percobaan memperkuat dugaan bahwa kandungan gula biasanya lebih tinggi daripada derajat brix. Analisis varians juga menunjukkan bahwa kandungan gula dari semua variaetas yang diuji mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan derajat brix dari nira sorgum manis (FAO, 1994a).

Referensi:

FAO, 1994a, Ethanol production from sweet sorghum, dalam Integrated energy system in Cina – the cold northeastern region experience, http://www.fao.org/docrep/t4470E/t4470e01.htm# (diakses 14 Desember 2009).

FAO, 1994b, Breeding and cultivation of sweet sorghum, dalam Integrated energy system in Cina – the cold northeastern region experience, http://www.fao.org/docrep/t4470E/t4470e01.htm# (diakses 14 Desember 2009).

Habyarimana, E., Bonardi, P., Laureti, D., di Bari,V., Cosentino,S., Lorenzoni,C., 2004, Multilocational evaluation of biomass sorghum hybrids under two stand densities and variable water supply in Italy, Ind. Crops and Prod., 20: 3-9.

Heichel, G.H., 1976, Agricultural production and energy resources, Am. Scientist 64: 64-72.

Mamma, D., Christakopoulos, P., Koullas, D., Kekos, D., Macris, B.J and Koukios,E., 1995, An alternative approach to the bioconversion of sweet sorghum carbohydrates to ethanol, Biomass and Bioenergy 8: 99-103.

Nahar, K., 2011, Sweet sorghum: an alternative feedstock for bioethanol, Iran. Jour. of Energy & Environ., 2: 58-61.

Reddy, B.V.S, Ramesh, S., Reddy, P.S., Kumar, A.A., Sharma, K.K., Chetty, S.M.K., and Palaniswamy, A.R., 2006, Sweet Sorghum: Food, Feed, Fodder and Fuel Crop, India:ICRISAT.

USDA, 2008, Conservation Plant Characteristics, http://plants.usda.gov/ (diakses 10 Nopember 2008).

Skinner, W., 2006, The Plants Database, National Plant Data Center USDA Los Angeles, http://plants.usda.gov,(diakses tanggal 6 Maret 2006).

Worley, J.W., Vaughan, D.H., and Cundiff, J.S., 1992, Energy analysis of ethanol production from sweet sorghum, Biores. Technol. 40:263-273.

Iklan